Berita

Cari Kerja Susah, Pengusaha Sebut Syarat Baru Diterima Kerja di Era AI

Hijikata 20 Jun 2026 30 kali dibaca
Cari Kerja Susah, Pengusaha Sebut Syarat Baru Diterima Kerja di Era AI
Syarat Baru Diterima Kerja di Era AI
SOROTAN KARIER DI ERA AI

Ada pertanyaan yang makin sering muncul di obrolan anak muda soal karier. Kalau AI bisa mengerjakan banyak hal lebih cepat dari manusia, skill apa yang sebenarnya masih bikin kita dibutuhkan?

Jawabannya datang dari panggung konferensi SuperAI di Singapura, pertengahan Juni kemarin. Yat Siu, salah satu pendiri Animoca Brands, perusahaan yang dikenal lewat investasi besar di dunia game dan teknologi blockchain, buka suara soal apa yang sebenarnya membuat seseorang tetap relevan ketika AI mengambil alih banyak jenis pekerjaan.

Menurut Siu, jawabannya bukan soal sejago apa seseorang ngoding atau seberapa dalam memahami cara kerja AI. Justru yang dia tekankan adalah sesuatu yang manusia sebenarnya sudah punya sejak lahir, yaitu kreativitas. Masalahnya, banyak orang perlahan kehilangan kebiasaan berpikir kreatif karena terlalu lama mengikuti sistem kerja yang serba rutin, mirip cara kerja mesin.

Manusia sebenarnya lahir kreatif. Yang sering terjadi, sistem kerja yang terlalu kaku perlahan mengikis kebiasaan itu sampai kita lupa caranya.

Rangkuman dari pernyataan Yat Siu di panggung SuperAI Singapura

Siu tidak menutup mata soal kekhawatiran banyak orang. PHK yang dikaitkan dengan otomatisasi AI memang nyata terjadi belakangan ini, dan itu membuat banyak pekerja, termasuk fresh graduate, merasa was was soal masa depan karier mereka.

Tapi dari sudut pandang Siu, disrupsi ini justru membuka ruang baru. AI akan mengambil alih pekerjaan yang sifatnya rutin dan berulang, sementara manusia mendapat ruang lebih besar untuk fokus ke hal hal yang butuh imajinasi dan rasa, sesuatu yang sampai sekarang belum bisa sepenuhnya ditiru mesin.

Ditanya soal kekhawatiran sejumlah pihak, termasuk peringatan dari Anthropic soal potensi bahaya pengembangan AI, Siu punya pandangan yang lebih tenang. Dia menegaskan situasi ini jauh berbeda dari perlombaan senjata nuklir. Menurutnya, mayoritas orang akan memakai AI untuk hal hal yang bermanfaat, dan hanya sebagian kecil yang berniat menyalahgunakannya, yang menurutnya tetap perlu diawasi dan dihentikan.

Buat generasi yang tumbuh bersamaan dengan perkembangan AI secepat ini, pesan dari Siu terasa relevan. Bukan soal siapa yang paling jago pakai tools AI, tapi siapa yang masih berani berpikir di luar pola yang biasa dikerjakan mesin.