Berita

Kelas Menengah Terhimpit: Ketika Hidup Layak Makin Sulit Dikejar

bagus tamimi 22 May 2026 29 kali dibaca
Kelas Menengah Terhimpit: Ketika Hidup Layak Makin Sulit Dikejar

Indonesia sering disebut sebagai negara yang kuat menghadapi guncangan ekonomi. Angka pertumbuhan masih positif, aktivitas masyarakat tetap berjalan, pusat belanja tetap ramai, dan jalanan kota masih dipenuhi kendaraan. Namun, di balik gambaran itu, ada cerita lain yang lebih sunyi: kelas menengah sedang terhimpit.

Mereka bukan kelompok yang terlihat miskin. Mereka masih bekerja, masih bisa membayar kebutuhan harian, masih mengirim anak sekolah, masih sesekali membeli kopi, dan mungkin masih terlihat “baik-baik saja” dari luar. Tetapi, di balik itu semua, banyak dari mereka sedang menghitung ulang hidupnya setiap bulan.

Pertanyaannya, apakah kelas menengah benar-benar sedang baik-baik saja?

Jarak Antara Angka Makro dan Realitas Dompet

Secara angka, ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan bahwa ekonomi nasional masih bergerak dan tidak berhenti. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak selalu langsung terasa di meja makan setiap keluarga. Ada jarak antara angka makro yang terlihat kuat dan realitas dompet masyarakat yang semakin ketat.

Kelas menengah berada di posisi yang unik. Mereka tidak selalu masuk daftar penerima bantuan, tetapi juga belum cukup kuat untuk bebas dari tekanan biaya hidup. Mereka bekerja, membayar pajak, membayar cicilan, membayar sekolah, membayar listrik, membayar internet, dan tetap harus menjaga gaya hidup agar tidak terlihat “turun kelas”.

Inilah tekanan yang jarang terlihat: bukan hanya soal tidak punya uang, tetapi soal harus terus terlihat mampu.

Gaji Habis Bukan Karena Boros

Biaya hidup menjadi salah satu tekanan utama. Inflasi Indonesia pada April 2026 tercatat 2,42 persen secara tahunan. Secara data, angka ini masih terkendali. Namun bagi rumah tangga, kenaikan kecil pada harga beras, telur, minyak, transportasi, listrik, sewa rumah, dan kebutuhan anak tetap terasa besar ketika pendapatan tidak bertambah signifikan.

Masalahnya, pendapatan kelas menengah tidak selalu bergerak secepat pengeluaran. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen, dengan rata-rata upah buruh sebesar Rp3,29 juta. Angka ini menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya menyediakan pekerjaan, tetapi juga menciptakan pekerjaan yang layak, stabil, dan cukup untuk membangun masa depan.

Bagi sebagian keluarga, gaji bulanan hari ini habis bukan karena boros, tetapi karena kebutuhan dasar memang makin banyak. Ada cicilan rumah atau kontrakan, kendaraan, pulsa dan internet, biaya sekolah, biaya kesehatan, kebutuhan orang tua, hingga utang kecil yang terus berulang. Akhirnya, uang bukan lagi alat untuk berkembang, melainkan sekadar alat untuk bertahan.

Di sinilah kelas menengah mulai kehilangan ruang bernapas.

Mereka ingin meningkatkan potensi, tetapi biaya pelatihan terasa mahal. Ingin membuka usaha, tetapi modal tidak cukup. Ingin menabung, tetapi selalu ada kebutuhan mendadak. Ingin investasi, tetapi dana darurat saja belum aman. Ingin hidup lebih baik, tetapi setiap bulan selalu dimulai dari pertanyaan yang sama: “cukup atau tidak?”

Bekerja Keras, tapi Belum Tentu Naik Kelas

Tekanan ini juga terlihat dari menyusutnya kelas menengah. Reuters melaporkan bahwa proporsi kelas menengah Indonesia turun dari 21,5 persen populasi pada 2019 menjadi 17,1 persen pada 2024. Penurunan ini menjadi sinyal bahwa sebagian masyarakat yang sebelumnya cukup aman mulai bergeser ke kelompok yang lebih rentan.

Kondisi ini bukan sekadar persoalan individu yang kurang berhemat. Ada persoalan struktural yang lebih besar. Bank Dunia mencatat bahwa ekonomi Indonesia memang mampu menyerap banyak tenaga kerja baru, tetapi banyak pekerjaan tercipta di sektor bernilai tambah rendah dan belum mampu membayar upah kelas menengah. Bahkan, upah riil disebut menurun rata-rata 1,1 persen per tahun pada periode 2018–2024.

Artinya, banyak orang bekerja, tetapi belum tentu naik kelas.

Inilah ironi yang dirasakan banyak keluarga hari ini. Mereka sibuk, produktif, dan tidak menganggur, tetapi hidup tetap terasa berat. Pekerjaan ada, tetapi tidak selalu memberi rasa aman. Penghasilan ada, tetapi tidak cukup untuk melawan kenaikan biaya hidup. Harapan ada, tetapi sering tertunda karena tuntutan kebutuhan harian.

Wilayah Abu-Abu: Rentan tapi Tak Masuk Daftar Bantuan

Kelas menengah juga menjadi kelompok yang paling sering menanggung beban sosial. Mereka membantu keluarga besar, menjaga reputasi, membayar kewajiban, dan tetap dituntut mandiri. Mereka belum tentu miskin, tetapi sangat mungkin rapuh. Satu anggota keluarga sakit, satu pekerjaan hilang, satu cicilan macet, atau satu harga kebutuhan naik drastis bisa langsung mengguncang kondisi keuangan.

Di sisi lain, angka kemiskinan memang menurun. BPS mencatat persentase penduduk miskin pada September 2025 sebesar 8,25 persen atau sekitar 23,36 juta orang. Ini adalah kabar baik. Namun, angka tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kelompok rentan yang berada sedikit di atas garis kemiskinan. Mereka tidak tercatat miskin, tetapi belum tentu aman.

Kelas menengah sering berada di wilayah abu-abu: tidak cukup miskin untuk dibantu, tetapi tidak cukup kaya untuk bertahan tanpa cemas.

Ketimpangan juga masih menjadi tantangan. Gini Ratio Indonesia pada September 2025 tercatat 0,363. Angka ini memang menurun dibandingkan periode sebelumnya, tetapi ketimpangan akses tetap terasa dalam kehidupan sehari-hari. Akses terhadap pendidikan berkualitas, pekerjaan formal, layanan kesehatan, koneksi internet cepat, dan peluang usaha masih belum merata.

Akibatnya, perjuangan kelas menengah tidak hanya soal pendapatan, tetapi juga soal akses. Siapa yang punya jaringan lebih baik, pendidikan lebih baik, lokasi lebih strategis, dan modal lebih kuat biasanya punya peluang lebih besar untuk naik. Sementara itu, mereka yang hanya mengandalkan gaji bulanan sering berjalan di tempat.

Suku Bunga dan Mahalnya Mimpi Sederhana

Situasi makin berat ketika nilai rupiah melemah dan suku bunga naik. Pada Mei 2026, Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen untuk menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan ini penting bagi stabilitas ekonomi, tetapi di sisi masyarakat, suku bunga yang tinggi bisa berdampak pada biaya kredit, cicilan, dan pembiayaan usaha.

Bagi pelaku usaha kecil, ini berarti modal bisa terasa lebih mahal. Bagi rumah tangga, cicilan bisa menjadi beban psikologis yang panjang. Bagi kelas menengah muda, membeli rumah semakin terasa seperti mimpi yang mundur beberapa langkah.

Maka, ketika banyak orang terlihat masih bisa makan di luar, membeli barang, atau jalan-jalan sesekali, bukan berarti mereka sepenuhnya aman. Bisa jadi itu adalah bentuk kecil dari pelarian setelah lelah bekerja. Bisa juga itu hasil dari cicilan, paylater, atau keputusan emosional untuk tetap merasa hidup di tengah tekanan.

Kelas menengah hari ini tidak selalu sedang mengejar kemewahan. Banyak dari mereka hanya ingin hidup layak: punya rumah sederhana, pendidikan anak terjamin, orang tua terurus, utang terkendali, dan masih ada sedikit tabungan untuk masa depan.

Namun, hidup layak kini terasa semakin mahal.

Negara Harus Hadir, Bukan Sekadar Menyuruh Hemat

Untuk keluar dari tekanan ini, solusinya tidak cukup hanya meminta masyarakat lebih hemat. Hemat memang penting, tetapi masalah kelas menengah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengurangi kopi, makan di rumah, atau berhenti membeli barang kecil. Yang lebih penting adalah memperluas pekerjaan layak, menaikkan produktivitas, memperkuat pendidikan vokasi, menekan biaya hidup dasar, memperbaiki akses rumah terjangkau, dan membuka ruang usaha yang lebih sehat.

Negara perlu memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar turun ke kehidupan masyarakat. Bukan hanya tumbuh di laporan, tetapi juga terasa dalam bentuk upah yang lebih layak, harga kebutuhan yang stabil, transportasi yang terjangkau, pendidikan yang berkualitas, dan peluang kerja yang memberi masa depan.

Kelas menengah adalah tulang punggung konsumsi, pajak, usaha kecil, pendidikan anak, dan stabilitas sosial. Jika kelas ini terus tertekan, dampaknya bukan hanya pada individu, tetapi pada ekonomi nasional secara luas.

Sebab ketika kelas menengah mulai berhenti bermimpi, ekonomi juga kehilangan tenaga penggeraknya.

Indonesia tidak kekurangan orang pekerja keras. Yang dibutuhkan adalah sistem yang memberi ruang agar kerja keras itu benar-benar bisa mengubah hidup. Karena bagi banyak keluarga hari ini, pertanyaan terbesarnya bukan lagi “bagaimana menjadi kaya?”, melainkan “bagaimana agar tidak jatuh?”

• • •

Dan mungkin, di situlah wajah paling jujur dari kondisi Indonesia saat ini: negara terus tumbuh, tetapi banyak warganya masih berjuang agar tidak tertinggal.