Informasi

Saat Bertahan Hidup Jadi Prioritas: Potret Ekonomi Indonesia dari Isi Dompet Masyarakat

bagus tamimi 21 May 2026 27 kali dibaca
Saat Bertahan Hidup Jadi Prioritas: Potret Ekonomi Indonesia dari Isi Dompet Masyarakat

Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan bahwa secara makro, perekonomian masih bergerak dan tidak berhenti. Dari sisi inflasi, BPS juga melaporkan inflasi tahunan April 2026 sebesar 2,42 persen, yang berarti secara umum kenaikan harga masih berada dalam level terkendali. Namun, angka yang tampak rapi di laporan ekonomi belum tentu sepenuhnya terasa ringan di dapur rumah tangga, warung kecil, meja kasir, atau dompet pekerja harian.

Masalahnya bukan semata-mata ekonomi tumbuh atau tidak. Pertanyaan yang lebih dekat dengan masyarakat adalah: apakah pertumbuhan itu benar-benar terasa sampai ke bawah? Sebab, bagi banyak orang, ekonomi yang baik bukan hanya soal PDB naik, tetapi soal apakah gaji cukup sampai akhir bulan, apakah masih bisa menabung, apakah ada ruang untuk ikut pelatihan, kuliah tambahan, membangun usaha, atau sekadar membeli alat kerja yang lebih baik.

Bank Indonesia melalui Survei Konsumen April 2026 mencatat Indeks Keyakinan Konsumen berada di level optimistis, yaitu 123,0. Ini menunjukkan bahwa secara umum masyarakat masih memiliki harapan terhadap kondisi ekonomi. Namun, dalam laporan yang sama, rata-rata 72,1 persen pendapatan konsumen masih digunakan untuk konsumsi. Artinya, sebagian besar penghasilan masyarakat habis untuk kebutuhan berjalan. Porsi tabungan memang naik menjadi 18,2 persen, tetapi ruang untuk investasi diri tetap tidak selalu mudah, terutama bagi kelompok penghasilan menengah ke bawah.

Di sinilah muncul fenomena yang menarik: masyarakat bukan malas meningkatkan potensi, melainkan sering kali tidak punya cukup ruang untuk mengambil risiko. Mengikuti kursus butuh biaya. Membuka usaha butuh modal. Mencoba pekerjaan baru butuh waktu adaptasi. Membeli laptop, alat produksi, atau perlengkapan kerja juga membutuhkan dana. Sementara itu, kebutuhan dasar tidak bisa menunggu. Beras, listrik, air, transportasi, kontrakan, pulsa, dan biaya anak sekolah harus dibayar sekarang, bukan nanti ketika kondisi sudah ideal.

Kondisi ketenagakerjaan juga memberi gambaran penting. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen, turun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, rata-rata upah buruh pada periode yang sama berada di angka Rp3,29 juta per bulan. Bagi sebagian daerah, angka ini mungkin masih bisa dikelola. Tetapi di kota-kota dengan biaya hidup tinggi, jumlah tersebut bisa terasa sangat terbatas setelah dipotong kebutuhan pokok, transportasi, cicilan, dan tanggungan keluarga.

Maka, wajar jika sebagian masyarakat akhirnya memilih jalur aman. Bukan karena tidak punya mimpi, tetapi karena hidup mereka sedang berada dalam mode bertahan. Dalam mode ini, keputusan ekonomi menjadi sangat hati-hati. Orang menunda membeli barang produktif. Anak muda menunda ikut pelatihan berbayar. Pekerja menunda resign meski pekerjaannya tidak berkembang. Pelaku usaha kecil menahan ekspansi karena takut modal habis. Bahkan, banyak keluarga lebih memilih menyimpan sedikit uang untuk kondisi darurat daripada menggunakannya untuk meningkatkan keterampilan.

Fenomena ini juga tampak dari cara masyarakat berbelanja. Bank Indonesia memperkirakan penjualan eceran April 2026 tetap terjaga, tetapi secara bulanan diprakirakan menurun 10 persen setelah periode Ramadan dan Idulfitri. Ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi momentum tertentu. Saat ada kebutuhan musiman, belanja naik. Setelah itu, masyarakat kembali mengatur napas dan menahan pengeluaran.

Di sisi lain, angka kemiskinan memang menunjukkan perbaikan. BPS mencatat persentase penduduk miskin pada September 2025 turun menjadi 8,25 persen, dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 23,36 juta orang. Penurunan ini tentu kabar baik. Namun, jumlah tersebut tetap besar dan menunjukkan bahwa masih ada jutaan orang yang hidup sangat dekat dengan batas kemampuan ekonomi. Satu guncangan kecil saja, seperti sakit, kehilangan pekerjaan, gagal panen, atau harga bahan pokok naik, bisa membuat kondisi rumah tangga kembali rapuh.

Karena itu, ketika masyarakat lebih memilih bertahan hidup daripada meningkatkan potensi, kita perlu melihatnya dengan empati. Jangan terlalu cepat menyebut mereka kurang berani, kurang kreatif, atau tidak mau maju. Dalam banyak kasus, keberanian untuk berkembang hanya bisa muncul ketika kebutuhan dasar sudah relatif aman. Orang bisa berpikir tentang masa depan ketika hari ini tidak terlalu mengkhawatirkan.

Namun, bukan berarti peningkatan potensi harus berhenti total. Tantangannya adalah mencari bentuk pengembangan diri yang lebih realistis. Misalnya, mengikuti pelatihan gratis atau murah, belajar dari konten edukatif yang kredibel, membangun usaha kecil secara bertahap, memperbaiki keterampilan komunikasi, atau memanfaatkan komunitas untuk saling bertukar peluang. Peningkatan potensi tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kadang, ia dimulai dari keputusan kecil yang konsisten.

Bagi pelaku usaha kecil, kondisi ini juga menjadi sinyal penting. Masyarakat sedang lebih selektif dalam mengeluarkan uang. Maka, produk atau jasa yang ditawarkan harus benar-benar menjawab kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Harga, manfaat, kepercayaan, dan kedekatan emosional menjadi semakin penting. Konsumen hari ini tidak hanya bertanya, “Bagus atau tidak?” tetapi juga, “Apakah ini benar-benar perlu?”

Sementara bagi pemerintah dan pemangku kebijakan, tantangan besarnya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi tidak berhenti di angka makro. Pertumbuhan perlu diterjemahkan menjadi lapangan kerja berkualitas, upah yang layak, harga pangan yang stabil, akses pendidikan yang terjangkau, serta dukungan nyata untuk UMKM. Ketika kebutuhan dasar masyarakat lebih aman, barulah mereka punya energi untuk naik kelas.

Pada akhirnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak bisa dibaca hanya dari satu sisi. Angka pertumbuhan menunjukkan harapan, tetapi isi dompet masyarakat menunjukkan kenyataan. Ada optimisme, tetapi juga kehati-hatian. Ada peluang, tetapi juga tekanan. Ada keinginan untuk maju, tetapi sering kali tertahan oleh kebutuhan hidup yang datang setiap hari.

Masyarakat Indonesia sebenarnya tidak kehilangan potensi. Mereka hanya sedang memilih bertahan agar tidak jatuh lebih dalam. Dan di tengah situasi seperti ini, hal paling penting bukan hanya menyuruh orang untuk berkembang, tetapi menciptakan ruang agar mereka mampu berkembang tanpa harus mengorbankan kebutuhan hidupnya.

Sebab, ketika bertahan hidup sudah tidak lagi terlalu berat, barulah potensi bisa tumbuh dengan lebih kuat.